[Book Review] Fortunately, the Milk

(oleh Selviana Rahayu)

susu

Gyahahahaha. Membaca buku ini bikin saya nggak berhenti-berhenti ketawa. Gimana nggak, coba bayangin kalau ada seorang ayah yang begitu kocak dengan tingkat imajinasi yang sangat mengada-ada. Okay sih yang namanya imajinasi memang mengada-ada, tapi sosok ayah yang satu ini benar-benar konyol menurut saya. Saya pasti betah diasuh oleh ayah seperti dalam buku ini. Gyahaha!

Tahu nggak, sebenarnya ini hanya cerita tentang seorang ayah yang dititipi tugas oleh istrinya untuk menjaga anak-anaknya ketika istrinya sedang ada tugas dinas keluar kota. Sang Ayah lupa membeli susu di suatu pagi sehingga anak-anaknya tidak bisa menikmati sarapan serealnya. Hm, ide ceritanya sangat sederhana. Namun, bukan Neil Gaiman namanya kalau tidak bisa membuat suatu cerita sangat sederhana menjadi menarik untuk terus diikuti sampai akhir. Buku ini sukses menyeret saya untuk terus membaca kekonyolan-kekonyolan Si Ayah. So interesting!

Siapa sangka perjalanan tokoh Ayah di buku ini bisa menjadi segitu adventurous-nya?

Jadi begini. Sang Ayah ini keluar membeli susu terlalu lama sampai-sampai kedua anaknya panik. Hal ini menimbulkan kekesalan tersendiri buat Si Anak. Disangkanya Si Ayah ini pasti malah asyik ngegosip sama temannya yang kebetulan ketemu di jalan. Namun di satu sisi mereka juga takut kalau ternyata Si Ayah kenapa-kenapa di jalan. Lalu tak berapa lama akhirnya Si Ayah datang juga. Kedua anaknya terus menggerutu mengingat ayah mereka yang datang terlambat sehingga mereka nyaris telat ke sekolah.

Nah, kekonyolan pun dimulai. Si Ayah mulai membual.

Dia bilang dia telat karena saat dia membeli susu, dia bertemu UFO kemudian accidentally mengarungi mesin waktu dan kembali ke jaman baheula dan akhirnya ketemu sama Profesor yang berbentuk…

*hening sesaat*

… Stegosaurus (Stegosaurus ini bilang dia lagi melakukan perjalan ke masa depan dengan inovasi mesin waktunya. Ealah!)
susu
Oh, Man, mana ada anak jaman sekarang percaya diceritain dongeng begitu (pagi-pagi pulak!) sama Si Ayah? Oh iya, kedua anak itu sudah berumur delapan-sembilan tahun kalau saya nggak salah. Bukan umur balita lagi yang bisa dengan mudah percaya dongeng.

Cerita bualan itu nggak cuma sampai di situ saja. Si Ayah juga bilang kalau ia ditahan oleh bajak laut dan di laut itu ada ikan piranha. Mendengar hal itu, salah satu anak protes, “Yah, piranha itu ‘kan ikan air tawar, mana mungkin ada di laut,”

Jiyaaah *gubrak* Si Ayah kena senjata makan tuan. Huahahaha. Saya ngakak baca bagian ini. Dalam imajinasi saya kebayang gimana malunya muka Si Ayah yang melakukan kesalahan fatal dalam dongengnya. Tapi, salut. Si Ayah ini ternyata jago ngeles sampai-sampai kedua anaknya speechless dan setia mendengarkan dongeng-dongeng lainnya.

Pokoknya Si Ayah ini menceritakan banyak dongeng-dongeng yang intinya sih menjelaskan kenapa dia datang terlambat. Tapi saya berani sumpah kedua anaknya nggak ada yang percaya. YA IYALAH! Hahahaha.

Terus kedua anaknya iseng menanyakan bukti autentik untuk menunjukkan bahwa Si Ayah tidak berbohong. Nah, Si Ayah tentu nggak mau dibilang pembohong, maka ia membawa bukti itu. Apakah buktinya???

Jeng! Jeng! Jeng!!!

Baca sendiri deh. Pokoknya dijamin ngakak mengetahui jawaban ngeles dari Si Ayah. Gyahahaha!

Saya kasih 4 dari 5 bintang untuk cerita yang fantastis dan super duper absurd tapi sukses bikin ngakak ini! What an author! *worship*

Cinta Tanpa Kata Cinta

oleh: Dhia Citrahayi & C. Wibawa

cerpen_ctk

Kini aku ragu apakah ia benar-benar mencintaiku. Karena bagiku, cinta tanpa kata cinta seperti malam tanpa gelap. Ataukah memang inilah cara dia mencintai?

“Selesai!” Naily bergumam senang. Sejak siang tadi ia berkutat dengan piring, gelas, dan nampan. Mengantarkan pesanan para pelanggan yang seakan tak pernah habis meski ia sudah berusaha secepat mungkin melayani mereka. Segesit apapun kakinya melangkah, tetap tak sanggup mengimbangi banyaknya pelanggan yang datang. Tak jarang ia harus memenuhi nampannya dengan lebih banyak piring daripada yang seharusnya ia bawa. Tak efektif, tapi cukup efisien. Dan sekarang, ketika jam yang tergantung di atas meja kasir telah menunjukkan pukul 10 malam, Naily dapat kembali bernafas normal. Waktunya café tutup.

Naily seorang mahasiswi jurusan sastra. Meskipun keadaan keuangan keluarganya tak kekurangan, namun sejak kecil Naily terbiasa hidup mandiri. Termasuk dalam kuliahnya, walau orang tuanya menyokong penuh biaya kuliahnya, namun Naily tetap bekerja untuk mendapatkan ‘uang saku’ lebih.
“Sepertinya capek banget hari ini,” komentar lelaki jangkung yang muncul di belakang Naily.
Gadis itu menoleh, lalu nyengir sambil mengacungkan jempol kepadanya. Ia masih ingin melepas rasa lelahnya dan tak ingin membuang energinya lagi dengan menjawab pertanyaan lelaki itu, meskipun lelaki itu adalah bosnya di café ini.

Ryan, seorang pengusaha muda yang baru memulai bisnisnya setahun ini. Café ini adalah yang pertama dan mengalami perkembangan yang sangat baik. Sengaja Ryan merekrut para mahasiswa yang ingin bekerja paruh waktu di kafenya. Menurutnya, itu cara paling efektif untuk belajar sekaligus mengajar. Syukur-syukur ada yang tertarik untuk belajar bisnis sepertinya. Naily sendiri baru bekerja di café ini selama dua bulan. Tapi rasa kekeluargaan dan hubungan yang baik antar para pekerja, mulai dari pemilik hingga pelayan, membuat acungan jempol Naily menjadi hal yang biasa di sini, meski ia berhadapan dengan pemilik café.

“Ada acara setelah ini?” pertanyaan si bos yang hanya dibalas gelengan dari Naily. “Mau nemenin makan?” Seketika Naily memalingkan wajahnya ke arah Ryan dan menampilkan ekspresi kaget.
“Kenapa kamu lihatin saya kayak gitu? Ada yang salah?” tanya Ryan hati-hati.
“Enggak kok,” jawab Naily sekenanya sambil cepat-cepat mengubah ekspresinya. “Hanya kaget aja.” Ia kembali meringis.
“Jadi? Mau nemenin makan?” Ryan bertanya kembali.
Belum sempat Naily menjawab, handphonenya berdering. Sebuah pesan pendek telah menunggu untuk dibuka. Dari Cakra.
“Maaf, sebentar ya,” Naily minta izin untuk membaca SMS yang masuk.
“Oh, oke,” Ryan mempersilahkan meski air mukanya tidak. Beberapa saat kemudian Naily menatap Ryan.
“Sepertinya aku ga bisa nemenin kamu makan.”
“Emmm… Oke. Mungkin lain kali,” jawab Ryan sekenanya yang disertai dengan sepotong senyum kecil, senyum yang dipaksakan.

Continue reading

[Book Review] Pulang

( oleh DaNo )

16174176

Buat kalian, dan terutama saya yang hidup di zaman Orde Baru, tentunya merasakan betul bagaimana doktrin yang dijejalkan oleh pemerintah di masa itu tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak tanggung-tanggung, bahkan peristiwa G30S yang lekat dengan PKI pun didioramakan di Lubang Buaya sana.

Bagi saya pribadi, doktrin itu merasuk kuat ke dalam pikiran saya, bagaimana saya merasa ngeri terhadap PKI, bahkan pernah terbayang juga apa yang terjadi apabila dahulu kala PKI itu sukses berkuasa di Indonesia, tentunya bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang tak beragama, dan berpaham komunis. Itulah pandangan saya tentang komunis, suatu paham tak memercayai Tuhan, entah, pandangan saya benar atau tidak.

Mengapa saya begitu larut terhadap doktrin tersebut? Bayangkan saja, cerita-cerita yang dijejalkan kepada anak-anak di zaman itu sangatlah mengerikan. Bagaimana PKI dan antek-anteknya menyiksa para jendral besar negara ini, memutilasi tubuhnya, menyilet-nyilet bagian wajahnya, hingga pembuangan mayat-mayat para pembesar itu ke dalam sebuah lubang yang dinamakan Lubang Buaya.

Itu pandangan saya, bisa jadi juga sama dengan beberapa rekan sekalian. Belum lagi, setiap tahun di tanggal 30 September pasti ditayangkan film mengenai G30S/PKI, ada nonton barengnya segala pada waktu itu. Pelajaran-pelajaran sejarah pun mendoktrin bahwa PKI ini berbahaya.

klaPulang, sebuah novel fiksi yang berlatar kejadian non-fiksi G30S/PKI merupakan buku yang saya baca untuk SRC 2013kategori pemenang/nominator KLA (Khatulistiwa Literary Award). Novel ini menceritakan tentang para eksil (buronan politik) yang berada di luar negeri pada medio tahun 60-an.Para eksil ini secara tak sengaja selamat dari tangkapan tentara Indonesia yang sedang gencar-gencarnya menangkapi orang-orang yang terlibat dalam organisasi PKI.

Continue reading

Karya Seraper Dalam Buku,

Serapium ternyata bukan hanya tempat berkumpulnya orang-orang yang ‘gila membaca’. Hal ini terbukti dengan munculnya beberapa penulis yang menerbitkan buku mereka sendiri, ataupun membuat sebuah ‘buku bersama’, yaitu sebuah buku yang dibuat secara bersama-sama. Salah satunya adalah CSdnadychi dan ramundro.

CSdnadychi menulis buku pertamanya yang berjudul Para Pengendali Naga: Nyanyian Perag di Tanah Naga. Buku ini adalah buku fiksi fantasi yang bercerita tentang naga. Berikut adalah Blurb yang terlampir dalam Para Pengendali Naga :

Kami terikat dengan dirimu
Jiwa kami adalah jiwamu
Ragamu adalah milik kami
Dan kekuatan kami adalah milikmu…

Tertekan dalam keadaan yang tidak pasti. Para pengendali Naga hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang kekuasaan Tiran. Tetua Para Pengendali Naga berusaha keras melawan kekuasaan itu tetapi, akhirnya satu per satu dari mereka tumbang. Berawal dari terbunuhnya Tetua Naga provinsi Timur, bertahun-tahun kemudian, seorang Pengendali Naga muncul dan berusaha memperbaiki kekacauan ini.

Sayangnya… pertemuannya dengan musuh-musuhnya membuat pengendali Naga itu menjadi lemah hati. Mampukah dia melawan, sedangkan ia sendiri tak bisa mengontrol diri sendiri? Bisakah dia memenangkan pertikaian, sedangkan emosinya berkecamuk setiap kali bertemu dengan musuhnya?

Image

Continue reading

Pemenang SRC Maret 2013 : Fight Club by oyxpik

Judul : Fight Club
Penulis : Chuck Palahniuk
Penerbit : W.W. Norton & Company (1996)

Judul buku ini membuat saya berpikir tentang perkelahian ala street fighter menjadi tema cerita. Fight club! Sebuah novel karya Chuck Palahniuk yang akhirnya sangat sukses apalagi dengan dibuatnya film nominasi Oscar dengan judul sama yang disutradarai oleh David Fincher.

Fight Club adalah narasi dari tokoh utama. Tokoh utama adalah seorang karyawan perusahaan mobil yang menderita insomnia. Sudah melakukan terapi berkali-kali namun tidak ada hasilnya, akhirnya dia mengikuti saran dokter yang sebenarnya sindiran, untuk pergi ke support group. Dan di sanalah dia bertemu dengan Marla Singer, sesama “pengunjung” support group yang berlagak menjadi pasien. Tidak lama kemudian, tokoh utama kita juga bertemu dengan Tyler Durdent, seorang lelaki misterius yang muncul tiba-tiba di pantai. Tidak seperti kepada Marla, tokoh utama kita tampak mengagumi Tyler dan akhirnya mereka berteman. Sehingga ketika dia kembali dari perjalanan bisnisnya dan menemukan apartemennya meledak, dia lebih memilih menelepon Tyler dan tinggal bersamanya. Mulai dari sini, persahabatan mereka berdua terjalin dengan erat dalam waktu yang singkat. Mereka berdua langsung membentuk Fight Club.

Continue reading

[CERPEN] Dunia Tanpa Suara

Di belakang tirai panggung teater beralaskan kayu itu, Ia berdiri terpaku menatap serat kayu. Gugup, entah apa Ia dapat melakukan pentas tersebut pikirnya. ditariknya nafas dalam – dalam dan dihembuskannya. Dibukanya dompet biru kesayangannya dari celananya, dan diperhatikannya foto dirinya yang sedang mendekap seorang gadis dari belakang. Senyum mengembang dari wajah gadis itu, bahagia. cukup lama Ia memperhatikan foto itu.

Ia memalingkan wajahnya menuju langit – langit dimana seorang lighting crew sedang mengatur pencahayaan panggung. crew tersebut sangat fokus menjalankan tugasnya, mengambil resiko terjatuh dari tempat tinggi agar pentas dapat berjalan sempurna. Melihat warna – warni yang terpancarkan dari lampu tersebut sedikit menenangkan jiwanya.

Teringat pesan ibunya, Ia menundukkan wajahnya. “Raihlah cita -citamu dan banggakan orang tuamu nak.” Kata – kata itu selalu terngiang dalam benaknya. Hampir Ia menangis kala bayangan saat Ia melukai hati Ibunya terbesit dalam pikirannya. Tangannya yang telah memakai sarung tangan mengambil topi yang sedang dikenakannya, dan diletakkannya di depan dadanya. Sedih. Orang bilang lelaki itu jangan menangis karena tidak pantas, namun apa salahnya menangis untuk orang yang kita sayangi? Apa kita tidak diberi hak untuk menangis karena kita lelaki?

Continue reading

[ARTIKEL] Ironisme Bahasa Indonesia

(oleh Muhammad Desem)

Tepat hari ini 84 tahun yang lalu bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai “bahasa persatuan bangsa” saat Kongres Pemuda II. Sejarah perkembangan bahasa Indonesia sendiri tidak lepas dari peran dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda di awal abad XX. Menjelang akhir abad XIX Belanda menjadi kaya raya karena mengeruk keuntungan yang luar biasa besar dari praktik sistem tanam paksa (cuulturstelsel) di Indonesia. Banyaknya kritik terhadap sistem tersebut menyebabkan pemerintah Belanda menerapkan politik etis atau politik balas budi pada 1901. Kebijakan ini dilakukan pemerintah Belanda sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk kesejahteraan masyarakat pribumi. Program politik etis ini terkenal dengan sebutan Trias Van Deventer yang meliputi memperbaiki bidang pertanian, peningkatan pendidikan, dan transmigrasi. Langkah-langkah pemerintah kolonial Hindia-Belanda dalam bidang peningkatan pendidikan inilah yang nantinya seakan-akan menjadi katalis bagi terbentuknya bahasa Indonesia—sekaligus memunculkan beberapa ironi.

Continue reading